Home » » Memasuki Rumah Tawakal

Memasuki Rumah Tawakal

“Cukuplah bagi kami Allah dan dia adalah sebaik-baiknya Wakil.”
(Qs. Ali Imran: 173)


     Memasuki rumah tawakal adalah memasuki ruang kehambaan sejati. Apabila meyakini bahwa tidak ada sebab selain Allah swt, Allah-lah yang menciptakan semesta serta menggerakkan kehidupan dunia dan akhirat berdasarkan hukum-Nya, bahwa Dia-lah Sang Haq, Sang Kekal, Maha Kasih dan Sayang yang menyebabkan tak ada satu makhluk pun di jagat raya tak memperoleh rezeki, maka siapa pun akan mengetahui ketuhanan seraya memahami penuh kehambaan diri. Dengan kepahaman ini maka akan disadari bahwa penyerahkan segala urusan kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan tak terbantahkan.
     Kondisi ini menyeret sikap ikhlas dalam diri. Apapun yang terjadi, bagaimanapun kondisi kita, takdir macam apapun yang menyertai kita, hidup dan perjalanannya sepenuhnya kita serahkan kepada-Nya. Berserah tentu tak sama dengan menyerah. Hidup adalah amanat yang mesti kita pertanggungjawabkan dengan amal saleh seraya bertakwa kepada-Nya. Namun, hal diluar itu bukanlah urusan kita melainkan hak Allah sepenuhnya. Karena kita menyerahkan, mewakilkan, serta menyandarkan sepenuhnya segala perkara pada kuasa, wewenang serta keagungan-Nya.

Lalu apakah makna tawakal itu?
     Merunut makna kebahasaan, tawakal berasal dari wakala yang berarti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan urusan kita kepada orang lain. Dalam kaitan ini penyerahan tersebut adalah kepada Allah swt. Tujuannya, untuk mendapat kemashlahatan dan menghilangkan kemudharatan.
     Allah Tuhan segala makhluk dan urusan. Mentawakalkan perkara kepada-Nya berarti kebaikan. Allah Maha Suci, melimpahkan kesucian kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Bertawakal kepada-Nya berarti bertawakal kepada hakekat kesucian. Apa pun yang disandarkan kepada hakikat kesucian pastilah akan menjadi suci pula.
     Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah bertawakal kepada Allah berarti meyakini Allah-lah yang mewujudkan segala sesuatu di alam raya ini. Keyakinan ini menjadikan tindakan dan perbuatannya sejalan dengan perintah dan larangan Allah. Bertawakal, karenanya, didahului kesadaran, pilihan Allah adalah pilihan terbaik. Kita menjalani Islam dan syariatnya karena agama inilah yang Dia ridhai.

Maqam ketenangan dan hilangnya kedukaan
     Muhammad bin Abdul Wahab, seorang ahli tasawuf, mengatakan tawakal merupakan  pekerjaan hati dan puncak tertinggi keimanan. Sifat ini datang dengan sendirinya jika keimanan seseorang sudah matang.
     Menurut Al-Ghazali, dalam penerapannya, tawakal terdiri dari tiga tingkat. Pertama, tawakal itu sendiri yakni hati merasa tenang dan tentram atas segala hal yang telah dijanjikan Allah. Tawakal ini, menurut al-ghazali lazim dimiliki setiap mukmin. Poin ini tersangkut erat dengan iman. Mengimani Allah berarti mengimani janji yeng telah diberikan-Nya, seperti janji haknya kematian bagi tiap manusia dan janji hari pembalasan. Urusan-urusan tersebut sepenuhnya diwakilkan kepada Allah. Maqam ini disebut al-ghazali maqam dasar atau bidayah.
     Selanjutnya, maqam Taslim, yakni menyerahkan urusan kepada Allah karena hanya Dia yang mengetahui segala sesuatu mengenai diri dan keadaan setiap manusia. Bertawakal adalah pilihan keselamatan. Setiap ikhtiar, usaha, serta perbuatan hamba semata-mata dilakukan berdasarkan hukum-hukum Allah, berdasarkan perintah serta larangan-Nya. Karena Allah yang paling mengetahui maka pilihan yang paling selamat adalah mentawakalkan urusan kita pada-Nya. Maqam ini disebut maqam mutawassit.
     Maqam ketiga disebut Nihayat, yakni final atau ujung. Tawakal ini didasarkan sepenuhnya pada keridhaan terhadap segala ketentuan Allah. Tidak ada sedikit pun resah dan gundah hati menerima ketentuan-ketentuan Allah. Rasulullah saw dan para waliyullah diyakini memiliki tawakal seperti ini.
Orang yang bertawakal akan selalu berada dalam ketenangan, ketentraman, dan kegembiraan. Kondisi positif pun akan berlaku secara penuh. Jika ia memperoleh nikmat, ia bersyukur, sementara musibah hanya akan membuat ia bersabar. Tak ada tempat bagi duka dan susah hati.
     Tawakal membuat seseorang percaya diri, memiliki keberanian dalam menghadapi setiap persoalan, memiliki ketentraman dan ketenangan jiwa, dekat dan menjadi kekasih Allah, terpelihara dari kerusakan, serta senantiasa mendapat rezeki yang cukup. Syeikh Abdullah al-Haddad, pendiri tarekat Haddadiyah, menyebut syarat keabsahan tawakal adalah tidak melakukan maksiat serta bertakwa. Karenanya orang tawakal akan termasuk orang yang masuk surga tanpa dihisab.
     Sebuah hadits shahih riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa Nabi saw bersabda, “Ada tujuh puluh orang diantara umatku yang masuk surga tanpa hisab dan azab.” Dan tujuh puluh orang ini menurut Nabi saw adalah, “orang yang tidak meminta tolong kepada selain Allah dan kepada-Nya mereka bertawakal.”

     Demikianlah, Tawakal membawa seseorang pada inti iman kebahagiaan batin. Jika ikhlas adalah kemurnian hati maka tawakal adalah rasa segar dan sejuk yang terkandung didalamnya. Kedua hal sepesial ini berada di ketinggian iman seperti beradanya air jernih dan murni di ketinggian gunung.
     Tak ada yang benar-benar tahu seperti apa rumah tawakal itu karena hanya segelintir orang yang tinggal didalamnya. Tapi sebuah cerpen dari Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Muh bisa memberi kita gambaran indah tersebut. Kisah ini termuat dalam salah satu harian umum terkemuka Indonesia dan situs pribadi beliau dengan judul “Gus Jakfar.”
     Tersebutlah seorang bernama Gus Jakfar, putera Kyai Saleh, pengasuh pesantren “sabilul Muttaqim.” Gus Jakfar memiliki keistimewaan yang dikategorikan orang sebagai mukasysyafah, mampu melihat hal batin yang tersembunyi dalam yang lahir. Orang yang berjalan biasa dibilangnya berjalan megal-megol karena sakunya penuh, ternyata orang itu beberapa hari kemudian mendapat proyek besar. Seseorang perawan tua suatu hari disebutnya keningnya bercahaya, beberapa hari kemudian tersirat kabar perawan tua itu dilamar orang seberang. Begitu juga seorang tukang kebun, dibilang Gus Jakfar hidungnya bengkok, ternyata orang tersebut keesokannya harinya meninggal.
     Sampai suatu ketika Gus Jakfar bertemu seorang yang disebut Kyai Tawakal. Kyai ini sangat saleh, santun serta alim. Tapi dalam pandangan Gus Jakfar dikening kyai tersebut tertulis “Ahli Neraka”. Gus Jakfar tak menemui cela apapun dari sang Kyai. Kyai itu kesehariannya sangat baik, mengimani shalat, mengajar mengaji, senantiasa shalat sunnah, menemui tamu, dan lain sebagainya. Hingga satu waktu Gus Jakfar mengikuti kyai itu saat keluar pada tengah malam. Ternyata si kyai pergi kewarung kopi dimana pelayannya berdandan menor. Gus Jakfar lalu berfikiran warung itulah sebab tanda “Ahli neraka” dikening kyai itu.
     Tapi setelah mendengar kebenaran dari kyai Tawakal, Gus Jakfar tertunduk malu: “Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda “Ahli Neraka” di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah payah mencari bukti yang menunjukan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbu yang bening. Kedua, kau’kan tahu bagaimana neraka dan surga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Dia memasukan diriku ke surga atau neraka. Untuk memasukan hamba-Nya kesurga atau neraka, sebenarnya Allah tidak memerlukan alasan … Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya …” ujar Kyai Tawakal.
     “Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah sama gawatnya dengan penderitaan … mereka yang diwarung tadi kebanyakan orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabur … Berbeda dengan yang mempunyai kelebihan, godaan takabur itu datang setiap saat …,” ujar Kyai Tawakal menasehati Gus Jakfar yang tertunduk malu.
     Demikianlah, Allah Maha Agung, Maha Rahman, Dia berkehendak dengan penuh dan tak tergantung dengan apapun. Selayaknya kita menyembah-Nya, berdekat-dekat dengan-Nya, karena itulah keniscayaan. Allah menghadirkan anugerah, juga cobaan berupa penderitaan. Dia menghadirkan kekayaan juga ujian berupa kekurangan-kekurangan, tapi tugas kita sejatinya hanyalah satu yakni beribadah pada-Nya.
     Apapun yang akan terjadi kelak – sekalipun kita diberi anugerah sedikit merabainya, serta apa pun ujung bagi bakti kita itu nantinya didunia dan akhirat sepantasnya kita tawakalkan pada-Nya. Hingga Allah, sebagaimana ayat ke173 surat Ali Imran di atas, benar-benar cukup bagi kita dalam makna yang sebenar-benarnya. Waallahu ‘alam
 

2 komentar:

perjalanan-dunia.blogspot.com mengatakan...

Memasuki Rumah Tawakal

Membuat saya makin ingat dengan Yang Maha Kuasa

perjalanan-dunia.blogspot.com mengatakan...

menarik yaa